SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA & SELAMAT MEMBACA

Selasa, 24 Mei 2011

AKU GENERASI MUDA, BURUH KEHIDUPAN


Dunia yang kini sudah penuh dengan carut marut menuntut adanya sebuah revolusi. Meski perang dunia kedua sudah lama hilang dari peradaban tetapi masih saja ada segelintir negara yang masih adu kekuatan militer demi setapak tanah mereka yang saling diperebutkan. Apakah sebanding ribuan nyawa yang melayang dengan sebidang tanah yang mereka perebutkan. Kecaman demi kecaman didapatkan bahkan banyak mengutuk perbuatan mereka. Tetapi apakah hanya sebatas itu tindakan yang harus dilakukan atas apa yang telah terjadi.
Tidak hanya permasalahan didunia internasional saja yang menjadi sorotan publik. Masalah dalam negeri justru lebih lagi, korupsi yang semakin merebak bahkan masalah yang tidak kunjung selesai kemiskinan di bumi pertiwi ini semakin parah. Belum lagi masalah Lumpur Lapindo yang semakin luas menjajah wilayah Sidoarjo.
Dituntut sebuah perubahan yang akan membawa dunia ini pada rel keadilan. Dibutuhkan buruh kehidupan yang benar-benar mau dan rela berkorban demi berjalannya kehidupan ini ada koridor yang sepantasnya. Nasionalisme buruh kehidupan saat ini sulit untuk didapatkan. Dimana banyaknya putra dan putri bangsa yang mengabdi dinegeri orang hanya karena materi yang melimpah yang mereka akan dapatkan. Disaat adanya kontroversi atas harta negeri ini yang diklaim negara lain memang bumi pribumi berteriak serentak untuk melakukan perlawanan. Ketika kebudayaan kita yang diakui oleh negara tetangga serempak Indonesia menolaknya. Dan lagi tanah negeri ini yang kembali direbut oleh negara tetangga, kembali segenap jiwa dinegeri bersatu untuk melawannya. Tanpa disadari setiap insan Indonesia bersatu ketika adanya harta pribumi yang direbut. Tetapi apakah harus adanya masalah yang menuntut akan adanya persatuan agar setiap manusia dipenjuru nusantara bersatu.
Melihat Indonesia bagaikan kertas putih yang bertuliskan berbagai tinta kehidupan yang sudah seperti benang kusut. Sulit untuk mengurainya dari akar permasalahan, tetapi jika dibiarkan maka api masalah itu akan semakin luas melahap Indonesia hingga tidak ada lagi yang tersisa. Nasionalisme buruh kehidupan dituntut dalam penyelesaian masalah ini. Ingin rasanya buruh kehidupan mencalonkan diri menjadi orang nomor satu dinegeri ini untuk memperbaiki negeri dan membawanya pergi dari keterpurukan. Banyaknya bibit unggul negeri ini yang telah menggapai bintang dilangit namun malah membawa petaka. Mereka yang diharapkan mampu menjadi senjata andalan negeri ini untuk perubahan demi masa depan yang cerah malah menjadi bumerang bagi diri sendiri.
Kita generasi baru, buruh kehidupan harus menghapuskan generasi tua yang pekerjaannya korupsi. Kita generasi muda yang akan membawa negeri ini kembali kejalan keadilan. Dengan keadaan saat ini kaki bingung untuk melangkah dan hati tidak mampu untuk berpihak kepada siapapun. Cuma kepada kebenaran kita dapat berharap dan setiap kata yang terucap dari mulut generasi tua adalah bohong. Dunia generasi tua semuanya palsu, semuanya semu.
Segala usaha haruslah dikerahkan, kaum intelektual harus bergerak untuk menumpas kaum kapitalis yang terus saja menindas kaum minoritas. Buruh kehidupan ingin bangkit untuk menyuarakan revolusi tanpa mengatasnamakan kelompok apapun. Dengan idealisme yang dipegang teguh setiap buruh kehidupan siap menerjang batas gelap yang sudah lama menutupi indahnya terang keadilan. Bergerak dan terjun dengan idealisme tanpa memakai politik sebagai pondasi. Karena politik penuh dengan warna-warni yang sulit untuk ditebak. Politik juga acap kali dipakai sebagai alat untuk rmncapai puncak mimpi setiap orang, kekuasaan. Kekuasaan memang perlu untuk menjalankan sebuah pemerintahan tetapi tidaklah menjadi otoriter. Namun disaat setiap mulut diberikan kebebasan untuk berucap apa yang mereka ingin utarakan. Menyadari atau tidak ternyata mereka telah melewati batas. Dengan kebebasan untuk beropini ternyata tidak juga mampu membawa negeri ini kepada hari-hari yang indah. Kekuasaan absolut juga tidak pantas untuk menentukan nasib setiap orang yang telah lama mendiami bumi pertiwi ini. Setelah menjalani 65 tahun hidup dalam kebebasan dan memakai berbagai senjata hukum untuk menjalankan pemerintahan seperti tidak ada yang pantas untuk dipakai. Setiap buruh kehidupan yang ada dinegeri ini sudah bosan dengan berbagai pro dan kontra yang terjadi. Tetapi tinggal menunggu waktu untuk bergulir buruh kehidupan akan menaiki tangga tertinggi dinegeri ini. Buruh kehidupan tidak akan tingggal diam, meski tidak terlihat pergerakannya. Buruh kehidupan memilih bekerja dibalik layar, menyusun skenario dan mengatur setiap aksi aktor dan aktris yang akan memukau setiap penikmat. Namun satu hal yang selalu dirindukan setiap manusia adalah kebebasan. Bagai burung dalam sangkar emas tiadalah berarti dibandingkan burung yang terbang bebas tanpa sangkar emas yang selalu membatasi setiap geraknya. Kalau kita ingin hidup bebas, kita harus belajar terbang dan menjangkau betapa luasnya angkasa yang akan menyambut setiap inspirasi yang kita utarakan.
Mari generasi muda, buruh kehidupan jangan terbuai dengan berbagai kata yang telah keluar dari mulut kita. Jika bukan yang akan melakukannya siapa lagi, ketahuilah teman hanya dengan hitungan jari tahun kedepan kita yang akan berada dipuncak tertinggi tahta negeri ini. Tetapi perlu diingat teman betapa bodohnya generasi kita jika ketika kita memimpin sama halnya dengan keadaan terdahulu. Jangan hanya mampu memberi sejuta kritik atas pemerintahan yang terpuruk tetapi berilah solusi yang inovatif dan produktif. Jangan hanya menyebut muak dengan terpuruknya keadaan saat ini sesungguhnya lebih jika beraksi sebagai revolusiner. Jangan menyalahkan cara yang mereka tempuh dan membuat buntu setiap jalan pikiran. Tetapi ciptakan jalan disaat tiada jalan serta jangan lupa untuk berserah kepadaNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar